| Little star in the sky |

Name: URL:

Surat Terakhir
Kamis, 23 Januari 2014 • 07.45 • 0 comments

Ify menyeruput teh terakhir sambil mendesah. Teh earl grey memang selalu nikmat, dalam situasi apapun. Apalagi kalau ditambah madu. Ify menatap pemandangan yang terbingkai indah dalam jendela. Hujan rintik-rintik seakan menambah keanggunan taman mawar. Ify menghitung –ada tujuh, delapan kuncup mawar. Terlihat begitu lembut dan anggun dibelai angin.
Semuanya begitu sempurna. Hanya ada satu yang kurang: orang yang menemaninya membangun taman mawar itu. Andai saja ada Gabriel sekarang, kenikmatan tehnya pasti akan terasa berlipat ganda.
Seulas senyum getir terukir. Ingatannya selalu berujung pada Gabriel. Senyumnya yang lebar dan mencerahkan. Bola mata yang begitu bening dan jujur. Tawa renyahnya saat membantu Ify memperindah taman kecilnya. Lengan kokoh yang menopangnya saat hampir terpeleset di bedeng-bedeng mawar yang licin.


Waktu itu pun hujan turun…
Pundak ify mendadak hangat. Senyum Rio membuatnya merasa seperti anak-anak.
“Ku bawakan kamu selimut.”

Ify mengangguk kecil, penuh rasa terima kasih. Baru dirasakannya ia kedinginan. Selimut dirapatkannya, mata tertuju pada sosok yang sudah ia kenal hampir seumur hidupnya. Ia senang pada apa yang dilihatnya. Wajah Rio tidak setampan Gabriel, tapi ada gurat-gurat ketegasan yang membuatnya tenang. Rio dapat diandalkan. Sahabat yang setia.
“Kamu gak apa-apa nemenin aku disini?” Tanya Ify tanpa benar-benar ingin tahu.

Selama ini ia menganggap Rio akan selalu ada. Rio juga sadar akan hal itu. People tend to take him for granted. Kadang ia kesal dibuatnya. Tapi dalam hal Ify, ia tak pernah peduli. Hatinya sudah menjadi milik Ify, saat Ify berbagi bekal sandwich-nya, sepuluh tahun yang lalu.

Gadis berkepang dengan gigi depan yang ompong. Rio tersenyum, tenggelam dalam kenangan masa lalu. Rambut ify masih juga sering ditata dengan gaya yang sama, wajahnya pun tak banyak berubah. Kesedihan membentuk garis-garis yang malah membuat wajahnya semakin menarik. Perasaan itu membuat gurat-gurat kedewasaan, membentuk karakter yang unik.

Ify kembali larut dalam kenangan. Ia membiarkan dirinya terbuai dalam masa-masa indah bersama Gabriel. Ia begitu kesepian. Tanpa disadari, Rio merasakan hal yang sama. Ia teringat kata-kata klise yang dibencinya. Karena ia merasakan kebenarannya. Puisi? Atau barangkali cerita ataupun novel? Dua orang yang bersama. Yang satu memikirkan kekasih yang jauh dan takkan dapat teraih lagi. Satunya lagi memikirkan yang ada bersamanya, juga tak tergapai karena pujaannya mendamba kekasih lain.

Pertanyannya –siapa yang lebih merasa kesepian?


Rio sadar, tak seharusnya ia merasa kesal pada Gabriel. Toh Gabriel sudah ada di alam lain, damai, tak terusik keduniawian. Ify-ya, Ify-lah yang menjadi objek pemikirannya saat itu. Setahun berlalu sudah, saat maut menjemput Gabriel. Siapa sangka, pemuda gagah ceria itu menyimpan kanker ganas dalam tubuhnya. Dan sampai sekarang.. Ify masih saja berduka. Membuatnya gemas. Kapankah Ify akan berpaling padanya, lebih dari sekedar teman biasa? Apakah ia akan menjadi bayangan tak bermakna disamping Ify, berusaha meraih cintanya tapi takkan pernah bisa?

“Kamu terlalu baik padaku, yo. Kamukan nggak usah nemenin aku seperti ini.” Ify menyeruput tehnya lagi. Kembali menatap kuncup mawar yang bergoyang.
“Tapi aku mau.”
“Aku lagi ingin sendirian.”
Rio menelan senyum. “Baiklah,” ujarnya enggan. “Kamu ingin sendirian membaca surat dari Gabriel, aku mengerti.”
Ify memejamkan mata. Entah kenapa ia merasakan sakit. Sungguh ia tak tahan mendengar nada pahit dalam suara Rio.
Jemari Ify gemetar, tapi bukan karena kedinginan, melainkan karena takut. Tidak tahu apa yang menantinya. Amplop tebal berwarna hijau muda di tangannya bisa berisi apa pun. Apa ini surat warisan? Atau barangkali…… Gabriel berkata bahwa sebelum ia pergi ia telah menemukan orang lain?

Ify menepis ketakutan itu dan mulai membuka amplop. “Aku harus berani menerima kenyataan,” bisiknya perlahan.
“Itu salah satu pesan dari Gabriel… saat ia tahu usianya tidak akan lama lagi.”
“Gabriel menulis surat ini di hari-hari terakhirnya. Dia meminta kami menyampaikannya kepadamu, tepat setahun setelah hari kematiannya.” Suara mamanya Gabriel masih mengiang.
Haru membuncah, membuat air mata mengalir deras. Gabriel masih juga ingat padanya. Memikirkannya –bahkan sampai sejauh ini! Gabriel mungkin tahu Ify akan selalu mengingatnya. Berduka. Larut dan hanyut dalam kenangan. Jadi dia menulis surat istimewa ini, khusus buat Ify.
Membacanya, Ify merasa tenang. Beban sangat berat melayang. Menimbulkan rasa damai di hatinya.


***


Kebun mawar Ify dan Gabriel telah sarat oleh warna. Rio menatap kuntum-kuntum wangi dan cantik. Hatinya pedih. Ify pasti sedang merindukan Gabriel, batinnya mengeluh.
“Indahnya!” Ify seakan berada dalam dunia berbeda. Dunia tempat Rio tidak ada, barangkali? Membayangkannya membuat Rio sedih. Apa ia harus menyerah menghadapi Ify dan mencari yang lain? Membayangkannya saja Rio tidak sanggup.
“Yo, bagus ya?” Tanya Ify lagi.
Rio mengiyakan.
“Tapi ku pikir sudah saatnya aku memiliki taman yang baru.”
Rio menatap Ify tidak mengerti.
“Temani aku membangun taman baru ya?”
Rio menatapnya dengan terkejut. Ada asa di sana. Ify memeluk lengan Rio. Ia teringat beberapa kalimat yang ditulis Gabriel untuknya.

“…Aku ingin selalu berada di dekatmu. Menjalani hidup bersama mu. Tapi aku sudah tak ada lagi di sisimu. Tak dapat lagi menjagamu. Lihatlah ke sekelilingmu, Ify, mawar jelitaku. Ada seseorang yang penuh cinta. Dia hanya perlu sebuah kesempatan. Aku tahu, kamu juga sayang padanya. Berbahagialah… Dan ingatlah aku, aku akan selalu mencintaimu….”

Rio senang tapi juga merasa sedikit tidak enak. Terakhir kali Ify melakukan hal itu, mereka masih duduk di bangku SD. “Mmm… Ify kita mau nanam apa?”
Tolong jangan mawar! Bunga itu memang menawan hati, tapi terkesan angkuh dan tak teraih. Seumur hidup aku tak mau berada dalam bayang-bayang Gabriel! Rio meminta dengan sungguh-sungguh.
Mata Ify bersinar. “Aster. Sederhana tapi bersahabat.”
Ify memeluk Rio erat. “Gabriel yang memberikan bibitnya.”
Rio balas memeluk. Sekarang dan sampai kapan pun, ia yakin, hati Ify miliknya.

Label:



PASTFUTURE
The star owner
Hello all.. Welcome to my diary online. Please don't copy anything in here. And if you open my diary online once, keep always open it and don't forget to give your comments about my story in my life. Thank you.. ^^

TALKIE TALKING

" Srikandi Stella Duce 1 Yogyakarta '16 "

FOLLOW


UPDATE STATUS

>
date : NOW
at:10 am


>>
date : 12/12/12
at: 12pm


>> cinderella arrived
date: 1/1/2190
at: 13.12pm

BLOG ARCHIVE;

  • Tertusuk Anak Panah
  • Kamu♥
  • Don’t wanna go back T.T
  • Going Home
  • Sammy Simorangkir - Dia
  • Kangen
  • Goresan Pena
  • Matemacinta 2
  • Ada yang mau ulang tahun ♥
  • Kurikulum 2013